Gulai belut patai cino

Sahabat Panarang... agenda mancing untuk mengisi waktu luang di hari minggu kali ini penulis gunakan untuk memancing belut. Namanya hobi, walau aktivitasnya terkesan kurang kerjaan tapi serunya tetap berujung dengan kepuasan batin. Bermodal sebuah pancing belut yang terbuat dari seutas senar yang dipelintir sedemikian rupa, penyaluran hobi berakhir di meja makan dengan sepiring gulai belut patai cino. Walah... maksudnya apa?


Begini sahabat Panarang, di daerah penulis tanaman yang memiliki bentuk seperti petai dengan ukuran kecil ini disebut dengan patai cino. Biasanya gunakan untuk tambahan dalam masakan dan kerap kali ditambahkan pada masakan yang diolah dengan cara digulai. Soal rasa ? Hmmm... lumayan untuk menambah selera makan, karena rasanya tidak pahit dan khas.

Trus, memasak belut dengan cara digulai... pada awalnya memang terdengar aneh bagi penulis. Beberapa ekor belut hasil tangkapan sendiri akhirnya dibagi untuk dimasak dengan cara digoreng dan digulai. Untuk belut yang akan digulai, setelah dibersihkan tidak langsung dimasak tapi dibakar terlebih dahulu. Jadi... tidak ada yang aneh setelah selesai dimasak dan dihidangkan.

Awalnya sempat ragu dan tidak berani mencoba gulai belut yang sudah disajikan di meja makan. Tapi aroma yang sedap mengundang selera untuk mencicipinya... alhasil, sedikit pujian patut untuk diberikan. Ternyata rasanya lumayan enak dan tidak seperti yang dipikirkan sebelumnya. Sahabat Panarang yang belum pernah mencoba... sepertinya perlu merasakan pengalaman menikmati gulai belut untuk menambah referensi aneka masakan yang diolah dengan cara digulai.

Sedikit catatan... ternyata sekarang mendapatkan belut di sawah sudah semakin sulit. Penangkapan secara besar-besaran dengan perangkap belut atau "lukah belut" serta dengan racun, membuat keberadaan nya menjadi sulit untuk ditemukan.

Baca Juga : Mancing belut dengan peralatan sederhana