Gulai ikan hampala, menu langka di meja makan

Alamak... sepertinya judul kali terlalu berlebihan, sahabat Panarang. Gulai ikan hampala, menu langka di meja makan. Tapi memang begitu adanya... untuk mendapatkan ikan ini saja lumayan sulit di pasaran, dipancing sendiri pun tidak semudah itu di sungai sekitar tempat tinggal penulis.

Ikan hampala di daerah penulis dikenal dengan nama ikan gariang dan ada juga yang menyebutnya dengan nama ikan barau. Konon kabarnya ukuran ikan ini bisa sangat besar untuk tipikal ikan air tawar yang ada di sungai. Namun yang berhasil penulis dapatkan dan menjadi lauk yang dimasak dengan cara di gulai dengan kuah santan kental hanya seberat 500 gram.


Rada mirip dengan daging ikan mas, ikan hampala memiliki tektur daging yang empuk dan padat. Sebelum digulai, ikan hampala sengaja digoreng terlebih dahulu agar lebih gurih saat dimasak dengan santan. Hmmm... pokoknya saat dihidangkan di meja makan, membuat selera makan bangkit dan ileran, hehe...

Baca juga : Gulai ikan mas hasil mancing bersama rekan

Hanya saja ikan hampala memilik tulang kecil yang banyak, sehingga saat disajikan dan disantap bersama anak-anak mesti sedikit hati-hati. Awalnya anak-anak cukup kerepotan juga untuk bisa menikmatinya dan terpaksa dibantu untuk memilah tulang kecil yang halus agar tidak termakan dan nyangkut di tenggorokan.

Hikmah mancing untuk mengisi waktu luang kali ini, disamping bisa menyalurkan hobi... bisa juga untuk menambah keragaman hidangan di meja makan. Disamping itu, jika kita menjaga kelestarian alam tanpa merusak nya... maka ketersediaan makanan gratis pun akan terjaga. Lho... kok gitu?

Yup, gulai ikan hampala yang menjadi menu langka di meja makan kali ini didapat dari alam dimana keragaman ikan di dalam sungai nya masih banyak dan lestari. Siapa saya yang ingin ikan dengan bebas tanpa harus membayar bisa memancing dan hasilnya bisa dibawa pulang. Bahkan modal kecil hanya segelas kopi dan cacing tanah sebagai umpan dan jalan kaki menuju lokasi mancing (^_^)

Baca juga : Mancing ikan hampala dan tilan di sungai berbatu