Mancing ikan lanjiang di sungai air deras dan berbatu

Mengisi waktu luang kali ini penulis jalani dengan menyalurkan hobi mancing di sungai air deras dan berbatu. Tujuan yang hendak dicapai... semata untuk menenangkan diri dan jika dapat hasil tangkapan ikan,ya... syukur. Akhirnya beberapa ekor ikan lanjiang yang biasa juga disebut ikan tilan didaerah penulis, berhasil dibawa pulang.

Awalnya sempat malas untuk melanjutkan mancing lantaran sampai di lokasi mancing favorit, beberapa orang sedang menangkap ikan dengan jala. Sungai air deras dan berbatu tempat penulis mancing sebenarnya anak sungai yang nantinya sampai ke sungai batang lembang dan bermuara ke danau singkarak. Ukuran sungai yang kecil, membuat penangkapan ikan dengan jala menjadi mudah.


Dengan maksud untuk menyalurkan hobi dan mengisi waktu luang, akhirnya joran pancing pun dikeluarkan dan berbekal umpan beberapa ekor cacing aktivitas mancing kali ini dijalani sendirian di tempat yang lumayan sepi. Sebenarnya rasa optimis masih akan mendapatkan ikan sudah sirna, tapi teringat sebuah pepatah... "Rasaki alang indak ka dek musang" yang artinya rezeki elang tidak akan dimakan musang... jadi rezeki orang yang mancing tetap ada dan tidak akan terambil oleh penangkap ikan dengan jala.

Mata kail pun dipasang umpan dan dilemparkan ke dalam sungai. Memang butuh waktu lama kali ini, biasanya selang beberapa menit di lokasi mancing yang sama... ikan sudah memakan umpan. Sekarang butuh waktu satu jam untuk strike pertama. Ternyata benar, ada usaha ada rezeki... dan rezeki pemancing tidak akan diambil oleh penjala.

Selang beberapa menit ikan lanjiang atau tilan, memakan umpan cacing lagi. Sepertinya jenis ikan seperti ikan tilan yang tidak bersisik, tidak mudah terjaring oleh jala dan selamat dari penjala yang lebih dulu datang tadi. Secara berturut-turut 4 ekor ikan lanjiang atau tilan berhasil dipancing. Sayangnya tipikal ikan lanjiang, apa bila memakan mata kail yang dipasangi umpan... selalu ditelan sampai dalam.

Dengan terpaksa, mata kail harus dikeluarkan dengan cara memotong dibagian bawah kepala ikan lanjiang. Dan sangat disayangkan, cara ini membuat satu ekor ikan lanjiang betina atau tilan betina yang sedang bertelur tidak bisa dilepaskan kembali. Hal ini sudah bisa diprediksi melihat badan ikan yang lumayan berisi. Padahal jika mata kail tidak tertelan terlalu dalam, pilihan utama adalah melepas kembali agar habitat ikan lanjiang atau tilan tetap terjaga di sungai air deras dan berbatu tempat lokasi mancing favorit penulis.

Merasa target untuk menyalurkan hobi mancing untuk mengisi waktu luang sudah tercapai, akhirnya penulis memutuskan untuk berhenti dan pulang. Diperjalanan sempat berpikiran untuk membuang ikan hasil tangkapan, tapi teringat bahwa sikap seperti itu namanya tidak bersyukur atas rezeki halal yang diberikan Yang Maha Pemberi... ikan lanjiang atau tilan pun dibersihkan sesampai dirumah untuk dijadikan lauk :)